Ya, mungkin buat orang ga penting. Tapi, aku perlu menuliskannya biar otakku ini ga jenuh.
Minggu, 24 September 2017
Hari hari yang penuh kenangan
Di malam yang sepi ini semua kenangan yang telah berlalu kembali lagi kedalam pikiran ini, ingin aku memutar waktu untuk kembali lagi kewaktu yang silam, ketika bersama semua teman. seluruh canda tawa dan keisengan yang kami lakukan bersama teman ingin aku ulang lagi, tetapi apa daya semua telah berlalu. sekarang gelapnya malam mulai menyelimuti malam ku yang sepi ini kesendirian ku tak dapat kutahan lagi. ingin ku berteriak kepada semua orang tapi ku hanya sendiri disini. hal yang tak dapat ku pungukiri adalah bahwa kesedihan ku ini tak dapat ku bendung, apalah daya ku sebagai manusia biasa di dalam ke sendirian ini. ingin ku gapai bulan di atas sana untuk ku simpan sebagai sinar dalam pekatnya malam ini, dan ketika esok pagi telah pagi telah tiba hari-hari ku kembali lagi ke rutinitas ku biasa. seluruh pekejaan yang menumpuk menunggu ku untuk kembali bekerja hanya untuk mencari sesuap nasi. terkadang aku mulai jenuh dengan semua pekerjaan yg berulang terus menerus. tetapi disaat kejenuhan itu kembali pikiran ku pun kosong dan tiba-tiba aku kembali teringat orang tua ku yang susah payah dalam mehidupi ku dan aku mulai meikirkan jerih payah mereka dalam menghidupi kebutuhan ku. dulu ketika aku meminta sesuatu maka mereka akan langsung memenuhinya, tapi aku tidaktau bahwa mereka memeras keringat hanya untuk memenuhi keingan ku yg tak terlalu penting ini, dan ketika aku lapar maka mereka akan membiarkan aku makan sampai kenyang lalu mereka pun makan, padahal mereka blum memakan apapun mulai dari pagi, mereka menahan lapar hanya untuk perut ku agar bisa kenyang, mereka hanya melemparkan senyum padaku.
Semua ingatan itu membuat aku kembali kuat untuk melanjutkan pekerjaan yang aku rasakan jenuh itu. sekarang aku mulai membuat diri ku tegar walaupun aku berada di perantauan yg jauh dari rumah dan orang tua ku. aku mengingat pesan yang dikatan orang tua ku bahwa dalam hidup ini tidak perlu bersedih walau ketika kita kesepian dan tidak ada yg dapat menemani kita.
By: aldo sipayung
"always be happy"
Kamis, 21 September 2017
ikan kecil
Kalau harus melawan arus
akan aku lakukan
kau tau,
aku bukan daun yang gugur di atas air sungai
yang hanya dapat mengikuti arus
kau tau,
aku ikan dengan sirip kecil yang selalu terkembang
berharap aku cukup kuat menghadang arus
kau tau,
aku bukan orang yang hanya dapat berkata "Ya"
saat semua menginginkan kata "Ya"
kau tau,
aku hanya orang biasa dengan pemikiran biasa
berharap menjadi biasa di dunia yang tidak biasa
Kerasnya air yang menghantam bebatuan,
Derasnya air yang menghanyutkan daun gugur.
aku tak peduli,
selama aku punya sirip kecil ini
aku akan bahagia
berenang kesana kemari
membelah deras air sungai
bersembunyi dibalik bebatuan
melompat merasakan hembusan angin
akan aku lakukan
kau tau,
aku bukan daun yang gugur di atas air sungai
yang hanya dapat mengikuti arus
kau tau,
aku ikan dengan sirip kecil yang selalu terkembang
berharap aku cukup kuat menghadang arus
kau tau,
aku bukan orang yang hanya dapat berkata "Ya"
saat semua menginginkan kata "Ya"
kau tau,
aku hanya orang biasa dengan pemikiran biasa
berharap menjadi biasa di dunia yang tidak biasa
Kerasnya air yang menghantam bebatuan,
Derasnya air yang menghanyutkan daun gugur.
aku tak peduli,
selama aku punya sirip kecil ini
aku akan bahagia
berenang kesana kemari
membelah deras air sungai
bersembunyi dibalik bebatuan
melompat merasakan hembusan angin
Rabu, 23 Agustus 2017
Rumput Liar
Seandainya saja aku adalah angin,
Yang setiap saat dapat membelai lembut wajahmu saat aku merindukamu.
Seandainya saja aku adalah matahari,
Yang setiap hari jadi yang pertama menyapa hari hari indahmu.
Seandainya saja aku air dalam kolam,
Yang tak ikan tak akan pernah bisa hidup tanpanya.
Tapi aku bukan angin yang berhembus dengan lembut,
Aku bukan matahari yang menyinari harimu,
Kau juga bukan ikan yang bituh air.
Aku hanya sebongkah batu ditepi jalan,
Yang setiap hari melihat orang lalu lalang tanpa pernah menyadari keberadaanku,
Sesekali tergilas roda roda pedati,
Aku hanya rumput liar yang tumbuh ditepi jalan,
Terinjak dan terlupakan.
Yang setiap saat dapat membelai lembut wajahmu saat aku merindukamu.
Seandainya saja aku adalah matahari,
Yang setiap hari jadi yang pertama menyapa hari hari indahmu.
Seandainya saja aku air dalam kolam,
Yang tak ikan tak akan pernah bisa hidup tanpanya.
Tapi aku bukan angin yang berhembus dengan lembut,
Aku bukan matahari yang menyinari harimu,
Kau juga bukan ikan yang bituh air.
Aku hanya sebongkah batu ditepi jalan,
Yang setiap hari melihat orang lalu lalang tanpa pernah menyadari keberadaanku,
Sesekali tergilas roda roda pedati,
Aku hanya rumput liar yang tumbuh ditepi jalan,
Terinjak dan terlupakan.
Sabtu, 19 Agustus 2017
Beritahu Ibumu
Beritahu ibumu bahwa aku bukan milikmu lagi,
Beritahu mereka aku bukan lagi sandaran hatimu.
Beritahu padanya kalau kau sudah memilih orang lain,
Beritahu padanya kalau aku bukan lagi orang yang harus dia tanyakan,
Bukan karna aku tidak menghormatinya,
Tapi karna aku ingin dia tahu
Aku bukan lagi orang yang selalu disisimu,
Bukan karna aku tidak merindukan mereka,
Tapi karna aku tak lagi orang yang berhak merindukan mereka.
Agar mereka berhenti menanyakan aku,
Agar jelas batas antara hitam dan putih.
Agar mereka tahu ada orang lain yang patut mereka tanyakan,
Orang yang kini berada di sisimu
Beritahu mereka aku bukan lagi sandaran hatimu.
Beritahu padanya kalau kau sudah memilih orang lain,
Beritahu padanya kalau aku bukan lagi orang yang harus dia tanyakan,
Bukan karna aku tidak menghormatinya,
Tapi karna aku ingin dia tahu
Aku bukan lagi orang yang selalu disisimu,
Bukan karna aku tidak merindukan mereka,
Tapi karna aku tak lagi orang yang berhak merindukan mereka.
Agar mereka berhenti menanyakan aku,
Agar jelas batas antara hitam dan putih.
Agar mereka tahu ada orang lain yang patut mereka tanyakan,
Orang yang kini berada di sisimu
Rabu, 16 Agustus 2017
Penyakit Kambuhan
Aku memaafkan, tapi tidak melupakan.
Banyak orang yang bilang begitu.
Saat kita tersakiti, memang sulit rasanya memaafkan. Apalagi harus melupakan.
Tapi dengan cara kita tidak memaafkan sebenarnya kita malah menciptakan bom waktu di dalam hati kita sendiri.
Percayalah kita tidak akan pernah hidup dengan bahagia saat kita menyimpan amarah.
Biarkanlah amarahmu menguap seperti air dilautan, biarkan dia menggapai langit. Suatu saat dia akan turun lagi menyirami tanah gersang, memberikan kesempatan baru bagi rerumputan yang lelah terbakar teriknya matahari.
Seharusnya begitu.
Memaafkan saja sudah berat bagi kita. Apalagi harus melupakan.
Tapi percaya
Kita harus memafkan,
Saat kita memaafkan hati ini tak lagi terbebani.
Tapi memaafkan saja tak cukup, kita harus melupakan.
Karna kalau kita tidak melupakan, memaafkan akan jadi hal yang sia sia, amarah akan kembali datang mengusik saat kita teringat kesalahan. Jadi ini hanya akan jadi seperti penyakit kambuhan.
Maka, saat dirimu melepaskan.
Pastikan kau memaafkan dan melupakan agar hati benar benar terbebas.
Banyak orang yang bilang begitu.
Saat kita tersakiti, memang sulit rasanya memaafkan. Apalagi harus melupakan.
Tapi dengan cara kita tidak memaafkan sebenarnya kita malah menciptakan bom waktu di dalam hati kita sendiri.
Percayalah kita tidak akan pernah hidup dengan bahagia saat kita menyimpan amarah.
Biarkanlah amarahmu menguap seperti air dilautan, biarkan dia menggapai langit. Suatu saat dia akan turun lagi menyirami tanah gersang, memberikan kesempatan baru bagi rerumputan yang lelah terbakar teriknya matahari.
Seharusnya begitu.
Memaafkan saja sudah berat bagi kita. Apalagi harus melupakan.
Tapi percaya
Kita harus memafkan,
Saat kita memaafkan hati ini tak lagi terbebani.
Tapi memaafkan saja tak cukup, kita harus melupakan.
Karna kalau kita tidak melupakan, memaafkan akan jadi hal yang sia sia, amarah akan kembali datang mengusik saat kita teringat kesalahan. Jadi ini hanya akan jadi seperti penyakit kambuhan.
Maka, saat dirimu melepaskan.
Pastikan kau memaafkan dan melupakan agar hati benar benar terbebas.
Kamis, 10 Agustus 2017
Untuk Wanita Kuatku
Untuk Wanita Kuatku,
Saat jalan buntu memaksaku berhenti melangkah,
saat beban hidup terlalu berat dipundakku,
atau
saat aku berada di persimpangan.
aku ingin kau ada disana,
menunjukakn jalan lain bagiku,
menguatkanku,
ingin rasanya aku berbaring dipangkuanmu,
menyandarkan tubuhku yang lelah di pundakmu.
meskipun aku tau aku bukanlah bayi kecilmu lagi
aku masih tetap ingin kau menuntun langkah kecilku.
Saat jalan buntu memaksaku berhenti melangkah,
saat beban hidup terlalu berat dipundakku,
atau
saat aku berada di persimpangan.
aku ingin kau ada disana,
menunjukakn jalan lain bagiku,
menguatkanku,
ingin rasanya aku berbaring dipangkuanmu,
menyandarkan tubuhku yang lelah di pundakmu.
meskipun aku tau aku bukanlah bayi kecilmu lagi
aku masih tetap ingin kau menuntun langkah kecilku.
Rabu, 09 Agustus 2017
Patah Hati
Patah Hati.
Rasanya itu campur aduk.
Sedih, marah, frustasi, emosi, AAARRRRRRGGGGHHHHH, bla bla bla bla bla.
Dulu sekali, aku pernah patah hati.
Jatuh cinta waktu SMA sama teman satu kelas. Ya, dia laki-laki yang selalu kuselipkan namanya dalam doaku. Laki-laki yang menurutku baik, pandai memetik gitar, punya senyuman yang manis. Aku ga berani bermimpi kalau dia juga punya rasa yang sama. Sampai pada satu hari dia bilang dia juga punya rasa.
Booooooommmm, tiba-tiba dunia penuh dengan bunga-bunga.
Tapi, bunga di taman hatiku harus layu sebelum berkembang.
Bunga dihatiku layu saat aku tau selain menaruh rasa padaku ternyata dia juaga menaruh rasa pada adik kelas kami.
Kecewa, sedikit marah, dan ini hati kok rasanya sedikit kebas ya?
Ya, itulah pertama kali aku merasakan patah hati.
Jauh sudah aku meninggalkan jejak kaki kami, aku pun lupa pada rasa sakitku.
Kemudian aku bertemu dengan seseorang yang menurutku pasti akan jadi lelaki idaman setiap wanita.
Baik, sopan dalam bertingkah laku, selalu bisa membuatku tersenyum, punya sejuta hal yang bisa kami bahas berjam-jam. Kalau di ingat-ingat rasanya kami tak pernak kehabisan topik pembahasan.
Malang tak dapat ditolak, aku harus terbentur kenyataan. Tanpa sepengetahuanku, dia merajut kasih dengan seseorang. Aku menangis, kecewa, patah, remuk. Saat itu aku masih muda, 19 Tahun. mungkin bagi orang lain umur segitu sudah cukup dewasa dalam bersikap. Tapi tidak bagiku.
Lagi, bunga ku harus layu sebelum berkembang.
Tahun berlalu,
aku ditemukan oleh lelaki yang menurut orang sempurna bagiku. Setahun kami berteman untuk mencoba mencari tau apa yang sebenarnya hati kami mau.
Setelah penantian panjang, akhirnya kami memutuskan untuk menyatukan hati.
Dua tahun kami bersama, cukup lama, bahkan sangat lama menurutku. Karna hubunganku sebelumnya tak pernah berjalan seumur jagung.
Tapi, apa yang menurut orang baik belum tentu baik kurasakan.
Ada yang salah dalam hubungan kami, kadang kami berusaha untuk memperbaikinya. tapi rasa rasanya itu tak pernah cukup. Menurutku hubungan kami semakin memburuk.
Kami ("mungkin aku yang memaksakan" lebih tepatnya) putuskan untuk saling memiliki ruang bagi diri sendiri.
Bukannya bertambah baik, hubungan kami malah semakin menyesakkan dada.
Tanpa memikirkan perasaannya, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.
Sedikit ada perdebatan dalam hatiku. Nuraniku berkata aku tak boleh kejam padanya, tapi aku tak sanggup harus terus menahan.
Akupun memutuskan hubungan kami, bukan karena aku tak sayang.
Tapi karna aku takut, kalau kami tetap bersama kami akan saling menyakiti.
Naif.
Aku takut tak ada jalan kembali bagi kami nanti, kalau tetap dipaksakan bersama.
Dan kali ini, aku lah yang menjadi penjahatnya.
Aku mematahkan hati seseorang!!!
Kemudian aku menemukan gucci antik.
Penuh retakan yang diguriskan alam dan waktu.
Seketika aku sadar, aku mau gucci itu!
Aku berlari mendapatkannya. Tak peduli dengan retakannya.
Yang kutau tak akan ada lagi yang seperti ini.
Tapi aku tak sadar, semakin erat aku memeluknya semakin banyak luka ditubuhku.
Sampai pada suatu senja, aku tersadar.
Terlalu banyak luka menganga ditubuhku. Aku tak pernah menyadarinya.
Habis sudah air mataku, sesak dadaku, pucat pasi wajah ini.
Kalau kata lagu hatinya sudah menjadi butiran debu, kataku hatinya sudah tidak ada bentuknya.
Retak, pecah, remuk, tak berbentuk, lenyap. Sirna.
Seketika kebas hatiku, lumpuh sudah.
Gucci antikku penuh darah dan air mataku.
Sekarang aku berhenti.
Bukan karna tak ingin membuka hati, tapi karna aku ingin memperbaiki hatiku.
Aku ingin memberikan waktu bagi hatiku untuk beristirahat, berbahagia dengan apa yang dia punya.
Menikmati setiap detik yang berharga tanpa harus berbagi tempat dengan hati orang lain.
Merayakan setiap kesembuhan luka lukaku.
Rasanya itu campur aduk.
Sedih, marah, frustasi, emosi, AAARRRRRRGGGGHHHHH, bla bla bla bla bla.
Dulu sekali, aku pernah patah hati.
Jatuh cinta waktu SMA sama teman satu kelas. Ya, dia laki-laki yang selalu kuselipkan namanya dalam doaku. Laki-laki yang menurutku baik, pandai memetik gitar, punya senyuman yang manis. Aku ga berani bermimpi kalau dia juga punya rasa yang sama. Sampai pada satu hari dia bilang dia juga punya rasa.
Booooooommmm, tiba-tiba dunia penuh dengan bunga-bunga.
Tapi, bunga di taman hatiku harus layu sebelum berkembang.
Bunga dihatiku layu saat aku tau selain menaruh rasa padaku ternyata dia juaga menaruh rasa pada adik kelas kami.
Kecewa, sedikit marah, dan ini hati kok rasanya sedikit kebas ya?
Ya, itulah pertama kali aku merasakan patah hati.
Jauh sudah aku meninggalkan jejak kaki kami, aku pun lupa pada rasa sakitku.
Kemudian aku bertemu dengan seseorang yang menurutku pasti akan jadi lelaki idaman setiap wanita.
Baik, sopan dalam bertingkah laku, selalu bisa membuatku tersenyum, punya sejuta hal yang bisa kami bahas berjam-jam. Kalau di ingat-ingat rasanya kami tak pernak kehabisan topik pembahasan.
Malang tak dapat ditolak, aku harus terbentur kenyataan. Tanpa sepengetahuanku, dia merajut kasih dengan seseorang. Aku menangis, kecewa, patah, remuk. Saat itu aku masih muda, 19 Tahun. mungkin bagi orang lain umur segitu sudah cukup dewasa dalam bersikap. Tapi tidak bagiku.
Lagi, bunga ku harus layu sebelum berkembang.
Tahun berlalu,
aku ditemukan oleh lelaki yang menurut orang sempurna bagiku. Setahun kami berteman untuk mencoba mencari tau apa yang sebenarnya hati kami mau.
Setelah penantian panjang, akhirnya kami memutuskan untuk menyatukan hati.
Dua tahun kami bersama, cukup lama, bahkan sangat lama menurutku. Karna hubunganku sebelumnya tak pernah berjalan seumur jagung.
Tapi, apa yang menurut orang baik belum tentu baik kurasakan.
Ada yang salah dalam hubungan kami, kadang kami berusaha untuk memperbaikinya. tapi rasa rasanya itu tak pernah cukup. Menurutku hubungan kami semakin memburuk.
Kami ("mungkin aku yang memaksakan" lebih tepatnya) putuskan untuk saling memiliki ruang bagi diri sendiri.
Bukannya bertambah baik, hubungan kami malah semakin menyesakkan dada.
Tanpa memikirkan perasaannya, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.
Sedikit ada perdebatan dalam hatiku. Nuraniku berkata aku tak boleh kejam padanya, tapi aku tak sanggup harus terus menahan.
Akupun memutuskan hubungan kami, bukan karena aku tak sayang.
Tapi karna aku takut, kalau kami tetap bersama kami akan saling menyakiti.
Naif.
Aku takut tak ada jalan kembali bagi kami nanti, kalau tetap dipaksakan bersama.
Dan kali ini, aku lah yang menjadi penjahatnya.
Aku mematahkan hati seseorang!!!
Kemudian aku menemukan gucci antik.
Penuh retakan yang diguriskan alam dan waktu.
Seketika aku sadar, aku mau gucci itu!
Aku berlari mendapatkannya. Tak peduli dengan retakannya.
Yang kutau tak akan ada lagi yang seperti ini.
Tapi aku tak sadar, semakin erat aku memeluknya semakin banyak luka ditubuhku.
Sampai pada suatu senja, aku tersadar.
Terlalu banyak luka menganga ditubuhku. Aku tak pernah menyadarinya.
Habis sudah air mataku, sesak dadaku, pucat pasi wajah ini.
Kalau kata lagu hatinya sudah menjadi butiran debu, kataku hatinya sudah tidak ada bentuknya.
Retak, pecah, remuk, tak berbentuk, lenyap. Sirna.
Seketika kebas hatiku, lumpuh sudah.
Gucci antikku penuh darah dan air mataku.
Sekarang aku berhenti.
Bukan karna tak ingin membuka hati, tapi karna aku ingin memperbaiki hatiku.
Aku ingin memberikan waktu bagi hatiku untuk beristirahat, berbahagia dengan apa yang dia punya.
Menikmati setiap detik yang berharga tanpa harus berbagi tempat dengan hati orang lain.
Merayakan setiap kesembuhan luka lukaku.
Langganan:
Postingan (Atom)