Rabu, 23 Agustus 2017

Rumput Liar

Seandainya saja aku adalah angin,
Yang setiap saat dapat membelai lembut wajahmu saat aku merindukamu.

Seandainya saja aku adalah matahari,
Yang setiap hari jadi yang pertama menyapa hari hari indahmu.

Seandainya saja aku air dalam kolam,
Yang tak ikan tak akan pernah bisa hidup tanpanya.

Tapi aku bukan angin yang berhembus dengan lembut,
Aku bukan matahari yang menyinari harimu,
Kau juga bukan ikan yang bituh air.

Aku hanya sebongkah batu ditepi jalan,
Yang setiap hari melihat orang lalu lalang tanpa pernah menyadari keberadaanku,
Sesekali tergilas roda roda pedati,

Aku hanya rumput liar yang tumbuh ditepi jalan,
Terinjak dan terlupakan.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Beritahu Ibumu

Beritahu ibumu bahwa aku bukan milikmu lagi,
Beritahu mereka aku bukan lagi sandaran hatimu.

Beritahu padanya kalau kau sudah memilih orang lain,
Beritahu padanya kalau aku bukan lagi orang yang harus dia tanyakan,

Bukan karna aku tidak menghormatinya,
Tapi karna aku ingin dia tahu
Aku bukan lagi orang yang selalu disisimu,
Bukan karna aku tidak merindukan mereka,
Tapi karna aku tak lagi orang yang berhak merindukan mereka.

Agar mereka berhenti menanyakan aku,
Agar jelas batas antara hitam dan putih.

Agar mereka tahu ada orang lain yang patut mereka tanyakan,
Orang yang kini berada di sisimu




Rabu, 16 Agustus 2017

Penyakit Kambuhan

Aku memaafkan, tapi tidak melupakan.

Banyak orang yang bilang begitu.
Saat kita tersakiti, memang sulit rasanya memaafkan. Apalagi harus melupakan.

Tapi dengan cara kita tidak memaafkan sebenarnya kita malah menciptakan bom waktu di dalam hati kita sendiri.
Percayalah kita tidak akan pernah hidup dengan bahagia saat kita menyimpan amarah.

Biarkanlah amarahmu menguap seperti air dilautan, biarkan dia menggapai langit. Suatu saat dia akan turun lagi menyirami tanah gersang, memberikan kesempatan baru bagi rerumputan yang lelah terbakar teriknya matahari.

Seharusnya begitu.

Memaafkan saja sudah berat bagi kita. Apalagi harus melupakan.

Tapi percaya
Kita harus memafkan,
Saat kita memaafkan hati ini tak lagi terbebani.

Tapi memaafkan saja tak cukup, kita harus melupakan.
Karna kalau kita tidak melupakan, memaafkan akan jadi hal yang sia sia, amarah akan kembali datang mengusik saat kita teringat kesalahan. Jadi ini hanya akan jadi seperti penyakit kambuhan.

Maka, saat dirimu melepaskan.
Pastikan kau memaafkan dan melupakan agar hati benar benar terbebas.

Kamis, 10 Agustus 2017

Untuk Wanita Kuatku

 Untuk Wanita Kuatku,

Saat jalan buntu memaksaku berhenti melangkah,
saat beban hidup terlalu berat dipundakku,
atau 
saat aku berada di persimpangan.

aku ingin kau ada disana,
menunjukakn jalan lain bagiku,
menguatkanku,

ingin rasanya aku berbaring dipangkuanmu,
menyandarkan tubuhku yang lelah di pundakmu.

meskipun aku tau aku bukanlah bayi kecilmu lagi
aku masih tetap ingin kau menuntun langkah kecilku.



Rabu, 09 Agustus 2017

Patah Hati

Patah Hati.

Rasanya itu campur aduk.
Sedih, marah, frustasi, emosi, AAARRRRRRGGGGHHHHH, bla bla bla bla bla.

Dulu sekali, aku pernah patah hati.

Jatuh cinta waktu SMA sama teman satu kelas. Ya, dia laki-laki yang selalu kuselipkan namanya dalam doaku. Laki-laki yang menurutku baik, pandai memetik gitar, punya senyuman yang manis. Aku ga berani bermimpi kalau dia juga punya rasa yang sama. Sampai pada satu hari dia bilang dia juga punya rasa.

Booooooommmm, tiba-tiba dunia penuh dengan bunga-bunga.

Tapi, bunga di taman hatiku harus layu sebelum berkembang.
Bunga dihatiku layu saat aku tau selain menaruh rasa padaku ternyata dia juaga menaruh rasa pada adik kelas kami.

Kecewa, sedikit marah, dan ini hati kok rasanya sedikit kebas ya?

Ya, itulah pertama kali aku merasakan patah hati.


Jauh sudah aku meninggalkan jejak kaki kami, aku pun lupa pada rasa sakitku.
Kemudian aku bertemu dengan seseorang yang menurutku pasti akan jadi lelaki idaman setiap wanita.
Baik, sopan dalam bertingkah laku, selalu bisa membuatku tersenyum, punya sejuta hal yang bisa kami bahas berjam-jam. Kalau di ingat-ingat rasanya kami tak pernak kehabisan topik pembahasan.

Malang tak dapat ditolak, aku harus terbentur kenyataan. Tanpa sepengetahuanku, dia merajut kasih dengan seseorang. Aku menangis, kecewa, patah, remuk. Saat itu aku masih muda, 19 Tahun. mungkin bagi orang lain umur segitu sudah cukup dewasa dalam bersikap. Tapi tidak bagiku.

Lagi, bunga ku harus layu sebelum berkembang.

Tahun berlalu,
aku ditemukan oleh lelaki yang menurut orang sempurna bagiku. Setahun kami berteman untuk mencoba mencari tau apa yang sebenarnya hati kami mau.
Setelah penantian panjang, akhirnya kami memutuskan untuk menyatukan hati.
Dua tahun kami bersama, cukup lama, bahkan sangat lama menurutku. Karna hubunganku sebelumnya tak pernah berjalan seumur jagung.

Tapi, apa yang menurut orang baik belum tentu baik kurasakan.
Ada yang salah dalam hubungan kami, kadang kami berusaha untuk memperbaikinya. tapi rasa rasanya itu tak pernah cukup. Menurutku hubungan kami semakin memburuk.
Kami ("mungkin aku yang memaksakan" lebih tepatnya) putuskan untuk saling memiliki ruang bagi diri sendiri.
Bukannya bertambah baik, hubungan kami malah semakin menyesakkan dada.
Tanpa memikirkan perasaannya, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.
Sedikit ada perdebatan dalam hatiku. Nuraniku berkata aku tak boleh kejam padanya, tapi aku tak sanggup harus terus menahan.


Akupun memutuskan hubungan kami, bukan karena aku tak sayang.
Tapi karna aku takut, kalau kami tetap bersama kami akan saling menyakiti.

Naif.
Aku takut tak ada jalan kembali bagi kami nanti, kalau tetap dipaksakan bersama.
Dan kali ini, aku lah yang menjadi penjahatnya.

Aku mematahkan hati seseorang!!!


Kemudian aku menemukan gucci antik.
Penuh retakan yang diguriskan alam dan waktu.
Seketika aku sadar, aku mau gucci itu!
Aku berlari mendapatkannya. Tak peduli dengan retakannya.
Yang kutau tak akan ada lagi yang seperti ini.

Tapi aku tak sadar, semakin erat aku memeluknya semakin banyak luka ditubuhku.

Sampai pada suatu senja, aku tersadar.
Terlalu banyak luka menganga ditubuhku. Aku tak pernah menyadarinya.

Habis sudah air mataku, sesak dadaku, pucat pasi wajah ini.
Kalau kata lagu hatinya sudah menjadi butiran debu, kataku hatinya sudah tidak ada bentuknya.
Retak, pecah, remuk, tak berbentuk, lenyap. Sirna.

Seketika kebas hatiku, lumpuh sudah.
Gucci antikku penuh darah dan air mataku.


Sekarang aku berhenti.
Bukan karna tak ingin membuka hati, tapi karna aku ingin memperbaiki hatiku.

Aku ingin memberikan waktu bagi hatiku untuk beristirahat, berbahagia dengan apa yang dia punya.
Menikmati setiap detik yang berharga tanpa harus berbagi tempat dengan hati orang lain.
Merayakan setiap kesembuhan luka lukaku.